GERAKAN SUBUH PUTIH

Assalamualaikum Wr Wb
Jumat,22 Rajab 1440 H

oleh : Andi Naja FP Paraga

Pengerahan Umat untuk Sholat berjamaah Subuh secara Massive tidak pernah dicontohkan oleh para ulama terdahulu didasarkan pada keyakinan bahwa hal seperti itu tidak pernah ada di Zaman Rasulullah Muhammad SAW,sama halnya pengerahan massa untuk Sholat Jumat di Lapangan tidak ada refrensi Qath’i tentang itu.

Yang kita temukan ada pengerahan Massa untuk Sholat Sunnat usai Fardhu Isya yang terjadi Pasca Wafatnya Rasulullah Muhammad SAWW namun hal itu disoroti oleh banyak sejarawan dan ulama sebagai Gerakan Politik. Sangat mungkin contoh inilah yang ditiru oleh kelompok-kelompok Islam aliran keras seperti ikhwanul muslin namun organisasi ini pun sudah dibubarkan di Mesir justru di Era terbaru saat belum lama ini karena sikap mereka yang Subversif terhadap Negara.

Melihat Running Tex di salah satu media televisi nasional semalam akan adanya Gerakan Subuh Putih yang dikerahkan pada Subuh 17 April 2017 dengan jumlah massa hingga ratusan ribu rasanya semakin jelas adanya gerakan-gerakan yang mengadopsi gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Tentu saja karena penyelenggaraannya di Subuh hari pada hari penyelenggaraan pemilu gerakan ini adalah gerakan politis. Seperti biasa alasannya untuk mendoakan Bangsa dan Negara namun motivasinya sangat politis. Pastinya penyelenggaranya bukan pemerintah karena jika pemerintah yang menginisiasi pastilah meminta Fatwa dari Majelis Ulama(MUI) Pusat dan pasti jauh-jauh hari MUI PUSAT menghimbau dan mensosialisasikan lewat semua media.

Jika suatu persoalan besar seperti Gerakan Subuh Putih tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAWW atau namun muncul seolah-olah seperti Ibadah hal ini dapat disebut Bid’ah.

Sebagai Muslim kita sangat dilarang mengada-adakan sesuatu yang tidak didasarkan pada petunjuk. Hal seperti inilah yang disebut Islamisme atau Islamistis atau sesuatu yang di-Islam-Islamkan. Sesuatu yang dislam-islamkan pasti bukan ajaran islam. Para Ulama dan cerdik pandai menganjurkan kita untuk memahami hal-hal seperti ini dan berharap umat islam bisa membedakan antara ISLAM dengan ISLAMISME-ISLAMISTIS. Keduanya sesuatu yang berbeda sangat jauh. Namun karena keawaman yang parah ditambah adanya upaya pembodohan umat bahkan maraknya gerakan politisasi agama hal ini seolah sesuatu yang benar atau bahkan disebut KEBENARAN.

Gerakan Subuh Putih semakin mrmperkuat asumsi kita memang ada Gerakan Sistematis Politisasi Islamyang sedemikian Massive menghadapi Pemilu 2019 ini. Persoalan berikutnya tentu akan muncul hal-hal yang sangat tidak kita inginkan apalagi gerakan ini menjadi sebuah gerakan intimidasi pilihan politik terutama kepada kelompok-kelompok yang lemah pemahaman Agamanya.

Lagi-lagi Negara mendapatkan Pekerjaan Rumah(PR) yang tidak ringan di Era Demokrasi dimana sejatinya Iklim Demokrasi justru harus bisa menghadirkan suasa indah bahkan Warga Negara bisa memilih seperi Jargon Lama “LANGSUNG, UMUM, BEBAS, RAHASIA yang disingkat LUBER. Karena sudah harus menjadi PR Negara rasanya tidak salah apabila kita semua bisa memberikan Sikap menjawab soal-soal ini dirumah masing-masing dengan Fikiran yang jernih.