ISLAM LIBERAL AKARNYA ADALAH KAFIR QURASY

Oleh Ibnu Aqil D. Ghani

Pertsma, Pergerakan untuk melemahkan Islam secara aqidah terus terjadi dan itu berangkai seperti rantai. Ketika orang kafir Qurasy menghadap Rasulullah yang mereka minta ialah agar Rasulullah menerima dan berbagi dalam Aqidah atau theologi. Setahun menerima ajaran Islam dan setahun menerima ajaran kaum musyrik, setahun mereka menyembah Allah dan setahun menyembah tuhannya orang kafir Qurasy.

Maka, semua ajakan dan upaya kafir Qurasy tersebut dipatahkan oleh Rasulullah SAW tegas dengan membaca ayat Allah; lakum diinukum waliyadiin.

Di Indonesia, dimulai dengan Islam Liberal, pengusungnya anak.muda yang kini bergabung dengan NU seperti Ulil Absar Abdalla, Muqshid Algazali, dll. Islam liberal adalah ajaran yang dinisbahkan pada nama Islam tetapi isinya menyeru kepada kebebasan untuk mengembangkan nilai nilai ysng bebas dari nilai Islam yang baku. Hakikatnya, Islam liberal mengusung sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Gagal ialah menyerukan Islam Liberal mereka mengganti nama dengan Islam inklusif. Apa itu Islam inklusif? Menurut para pengusungnya, Islam inklusif adalah Islam yang terbuka terhadap semua keyakinan agama lain, jauh dari sifat tertutup apa lagi tertutup.

Tak berhasil membawa Islam inklusif, mereka cari nama baru yakni Islam Multikultural. Mereka menempel dengan budaya lokal dan mengatakan Islam ganya bisa ditegakkan dengan.menegakkan budaya Nusantara.

Lalu, Islam Multikultural ternyata bernasib buruk. Namun mereka tak kehabisan akal, namanya ditukar dengan Islam Nusantara. Yaitu islam yang mengutamakan budaya lokal dan dibangun dengan menggali akar budaya bangsa.

Kini, muncul pula Islam milenial yang diplot untuk nenarik anak-anak muda. Tapi patron mereka tetap sama debgan yang sebelumnya.

Kedua, menghilangkan kecintaan dan penegakkan terhadap prinsip Islam. Misalnya, mengajak untuk membangun Islam tak lagi berpedoman kepada al Qur’an dan Hadits sebagai dasar ajaran Islam, tetapi berdasarkan budaya lokal dan menolak budaya yang pernah dilakukan oleh Nabi Saw dan oleh para sahabat dengan alasan ini budaya Arab.

Ketiga, mengaburkan penegasan indentitas yang menguatkan indentitas Islam dan melarang penyebutan kafir. Misalnya, melarang politik indentitas terutama indentitas Islam, melarang indentitas budaya dengan merendahkan jenggot, jilbab dan jubah kaum muslimin dan muslimah.

Keempat, menciptakan bahasa yang menarik misalnya istilah Islam Liberal. Nggak laku Islam Liberal diubah dengan Islam Ingklusif, nggak laku juga diusung Islam Nusantara, ngggak laku juga diusung Islam Milenial. Perkataan mereka menarik tetapi tetap berbau busuk. Karena sepandai-pandai orang membungkus yang busuk itu berbau juga.

Payakumbuh,  Maret 2019
Wasssalam
Ibnu Aqil D. Ghani