NABI BARU ATAU PENJAHAT ROHANI?

Foto: Ilustrasi Sumber: Wowmenariknya.com

 

(Review 6 Seri Film Dokumenter: The Wild-Wild Country, Neflix, 2018, total 6-7 Jam)

Denny JA

Di mata pengikut, Osho atau Bagwan Shree Rajnees itu nabi baru. Ia guru spiritual yang membebaskan mereka dari peradaban lama yang tengah membusuk. Ia membawa filosofi pada kebahagiaan yang lebih sejati, lebih tinggi.

Tak kurang dari penulis dari Barat seperti Judith M Fox. Ia menganggap Osho atau Rajnees sebagai satu dari 10 Tokoh India yang paling berpengaruh mengubah dunia, bersama Siddharta Gautama dan Mahatma Gandhi. Pemikiran Rajnees membawa spirit bebas untuk lepas dari formalisme dan kotak kotak agama.

Filsuf Jerman Peter Sloterdijk menganggap Rajnees semacam Wittgeinstein bagi Agama. Rajnees satu dari pemikir terbesar abad 20. Rajnees dianggap melakukan dekonstruksi, atau membongkar conventional wisdom, apa yang selama ini dianggap benar, akibat mendalamnya pengaruh ribuan tahun agama besar.

Namun di mata mereka yang antipati, Osho itu penjahat rohani. Ia guru sex bebas. Ia guru yang materialistik, bangga dengan 69 mobil Roll Royce. Bahkan ia kriminal. Tempat yang pantas baginya tak lain neraka jahanam.

Di mata pengikutnya, Rajnees membawa sebuah eksperimen yang tak pernah terjadi dalam sejarah manusia. Rajness menginspirasi mereka membangun komunitas, mengubah tanah kosong di Wasco Country, Oregan Amerika Serikat. Mereka membeli tanah seluas sekitar 30 ribu hektar, seluas setengah provinsi DKI Jakarta. Mereka bangun tak hanya perumahan, tapi hotel, restoran bahkan lapangan udara.

Tak hanya bangunan fisik, tapi dari sana mengalir ajaran yang lebih sejati untuk bahagia. Tak hanya ajaran, tapi hadir dan hidup komunitas, ribuan anggota yang bergairah dengan nilai baru itu.

Di mata yang antipati, gerakan ini menggunakan kelemahan hukum untuk mengkoloni teritori Amerika Serikat, meluaskan pengaruh, merebut pemerintahan lokal, dan menyebarkan kultur yang sangat bertentangan dengan ajaran Kristen.

Ma Anan Sheela, gadis muda penuh dedikasi. Ia murid yang begitu membela sang guru Osho (nama kemudian dari Rajnees). Ia menjadi sekretaris pribadi. Ia bergerak sebagai jenderal lapangan mengubah tanah kosong menjadi kota. Ia mengatur siasat mengalahkan komunitas lingkungan yang bermusuhan.

Namun waktu terus berputar. Ma Anan Sheela berubah menjadi pengkritik sang guru paling keras. Bagaimana bisa?

Itulah drama yang menyentak. Dua hari saya habiskan waktu, total lebih dari 6 jam terpaku. Ini kisah eksperimen gerakan spiritual di Amerika Serikat, mulai dari kebangkitan, hingga kejatuhan. Mulai dari solidnya gerakan hingga perpecahan.

Wow!!!! Kata itu berulang- ulang saya ucapkan karena tersentak oleh drama yang berbalik balik.

Ini seri yang sangat bagus. Tak heran, ia mendapatkan penghargaan Emmy Award 2018 untuk Non-Fiction/Dokumemtary.

-000-

Tahun 80-90an, sebelum saya sekolah ke Amerika Serikat, saya juga seorang pencari spiritual. Di samping menjadi aktivis demokrasi dan penulis, di usia belasan dan dua puluhan tahun, sayapun gelisah dengan makna hidup.

Saya membaca karangan Filsuf mulai dari Jhon Locke yang kanan hingga Karl Marx yang kiri. Mulai dari Filsuf yang percaya ada The First Mover seperti Tuhan (Plato, Aristoteles) hingga Feurbach yang menganggap manusia yang menciptakan Tuhan.

Namun saya berkeliling juga mendalami banyak aliran, mulai dari Karmayoga, Khrisnamurti, Subud, Ki Ageng Suryomentaram, hingga Sufisme.

Di era itu, pertama kali saya bersentuhan dengan Osho. Ia menulis begitu banyak buku, mulai dari intisari Budha, Zen, Tao hingga Sufisme. Namun semua ia rangkum dan kemudian menjadi filosofinya sendiri, dengan nama Rajnees Movement.

Tak banyak lagi yang saya ingat dari gagasannya. Kecuali satu hal yang saya lupa dari buku mana. Ia berkata: manusia menghabiskan waktu, sepanjang sejarah mencari dan menciptakan makna.

Lalu mereka membuat agama, menciptakan aneka konsep Tuhan agar hidup bermakna. Konsep itu membuat mereka saling pula berperang. Padahal yang penting menikmati realitas apa adanya. Nikmati keindahan yang ada, apa adanya, tanpa perlu ditambah ilusi.

Seketika perjumpaan awal saya dengan Osho itu yang teringat ketika memulai menonton enam seri Wild Wild Country.

-000-

Ini film dokumenter. Tak ada teknik yang lebih dramatik ketimbang meminta para pelaku utama sejarah untuk menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Ada yang mewakili para pendukung dan pemuja Rajnees. Ada yang mewakili pendukung yang kemudian berbalik arah. Ada yang mewakili komunitas yang “perang” ingin mengusir gerakan Rajnees (Osho) di sana. Ada yang mewakili pemerintah yang menegakkan hukum.

Para saksi itu semua sudah tua. Di tahun 2017 mereka mencoba mengingat kembali kisah 30 tahun lalu, yang berawal di tahun 1981 ketika para murid Osho membeli tanah maha luas di Antelope, Oregan, Amerika Serikat. Aneka footages, potongan video, dimunculkan memperkaya kisah flasback.

Jika ada momen penting yang tak ada potongan video, film dokumenter itu menyajikan sketsa lukisan yang kira kira menyerupai fisik dan suasana.

Kisah dimulai tumbuhnya gerakan Rajnees di India, di ujung tahun tujuh puluhan. Namun konservatisme Hindu tak menerima mereka. Pernah terjadi percobaan pembunuhan terhadap Rajnees, Sang Guru.

Saat itu, seorang gadis muda India tapi lama bersekolah di Amerika Serikat mengambil peran. Ia kemudian diberi nama baru: Ma Anand Sheela. Gagasan ia bisikkan kepada sang guru. Bagaimana jika pusat Rajnees Movement kita pindahkan ke Amerika Serikat? Kultur di sana lebih bebas. Pasal-pasal konstitusi melindungi.

Rajnees sudah lama punya mimpi. Ia membayangkan sebuah kota puluhan atau ratusan ribu pengikutnya dari aneka negara berkumpul satu. Di sana mereka membangun peradaban baru, altenatif bagi peradaban dunia yang sedang sakit.

Ujar Rajnees, dunia timur hanya menampilkan separuh dimensi manusia: sisi batin. Dunia barat hanya memberikan separuh lainnya: sisi materi. Rajnees datang melahirkan manusia yang utuh kembali. Kita memerlukan teritori maha luas untuk kerja sejarah.

Surveipun dimulai. Tim kecil dibentuk. Ma Anand Sheela melengkapi tim dengan para profesional. Mereka ahli soal hukum, soal konstruksi, soal keuangan, soal manajemen.

Dipilih sebidang tanah luas sekali di pelosok kota: Antelope. Penduduknya hanya sekitar 40-50 orang. Kata Sheela, ini kota yang mati. Kita ubah menjadi kota bercahaya.

Dalam video dokumenter itu jelas tergambar. Sayapun berulang berdecak kagum. Hanya bilangan tahun, tanah kosong itu berubah menjadi kota yang hidup, dengan hotel, disco, perumahan bahkan airport. Pengikut Rajnees pun dari aneka negara pindah ke sana.

Sayangnya film dokumentari ini kurang menggali berapa dana yang dihabiskan. Dan dari mana datang dana itu. Memang ada beberapa adegan yang menggambarkan para murid yang kaya raya. Mereka dengan senang hati mendermakan begitu banyak dana untuk membangun kota baru.

-000-

Satu hal yang tak mereka duga, penduduk lokal melakukan perlawanan. Ini kota kristen konservatif. Rumor beredar. Ada orang asing datang mengotori kota mereka dengan seks bebas dan uang.

Polisi, pemerintah setempat, wali kota antipati. Beberapa kali penduduk asli berjalan seperti membawa senjata.

Merespon penduduk asli yang tak bersahabat, Ma Anand Sheela merenung. Rajnees movement harus merebut pemerintahan lokal melalui pemilu demokratis. Mereka harus juga menjadi pemerintah di sana. Ini satu satunya cara agar aman.

Tak nanggung, strategi jitu dimainkan. Mereka memborong rumah sebanyak mungkin. Mereka buat sebanyak mungkin penduduk lokal pergi. Sehingga jumlah pengikut Rajnees lebih banyak.

Ketika datang pemilu, wakil dari Rajneespun menang. Mereka merasuk lebih jauh. Nama kota diubah: dari Antelope City menjadi Rajnees City. Nama jalan, restoran diubah. Nama Rajnees ada di seantaro kota.

Gerakan Rajnees yang berhasil merebut pemerintahan kota segera menjadi berita nasional di Amerika Serikat. Video kontroversial kegiatan komunitas ini luas beredar. Termasuk soal terapi psikologis bagi anggota baru yang penuh kekerasan. Termasuk juga seks bebas antar anggota.

Warga di luar Antelope city, terutama kalangan aktivis Kristen semakin gerah. Permusuhan semakin tajam.

Komunitas Rajnees mempersenjatai diri. Mereka mulai latihan militer, menumpuk senjata. Lebih jauh lagi, mereka ingin merebut pemerintahan yang lebih besar, dari hanya kota kecil (city) ke Wasco county.

Tapi bagaimana caranya? Jumlah penduduk county lebih banyak.

Tak kehilangan akal, Ma Anand Sheela dan tim menampung lebih dari 10 ribu homeless dari aneka pelosok Amerika untuk tinggal di sana. Mereka mengerahkan begitu banyak bus. Penduduk yang tidur di jalan, dijemput, diberi pakaian, diberi penginapan, diberi makan.

Para homeless people akan dijadikan penduduk untuk punya hak suara. Ujar Sheela, untuk survival komunitas, inilah cara menang pemilu. Pemda yang lebih besar harus direbut.

Penduduk di Wasco tak kalah cerdas. Mereka berkongsi agar 10 ribuan homeless itu tak diakui dulu sebagai penduduk yang memiliki hak suara.

Inilah awal segala petaka. Sheela merasa dicurangi. Mereka akan dikalahkan secara kotor. Baginya tak ada alasan mengapa 10 ribuan homeless people yang kini tinggal di Rajneespuram tak diberikan hak suara.

Gagasan kriminalpun dimulai. Tak terbayangkan, gagasan ini datang dari sebuah gerakan spiritual. Mereka meracuni penduduk setempat secara massal. Satu tujuannya, di hari pemilu, harus banyak warga tak datang karena sakit.

Kota heboh. Begitu banyak warga sakit. Polisi turun tangan. Rasa curiga terhadap pengikut Rajnees sebagai pelaku menyebar. Tapi tak ada bukti.

-000-

Konflik internal dalam gerakan Rajneespun dimulai. Tak semua anggota nyaman dengan gaya perang yang ditempuh Ma Anand Sheela. Tapi apa daya. Semua mereka tak punya akses untuk berjumpa dengan sang Guru Bagwan Shree Rajnees. Hanya Sheela yang punya akses berjumpa rutin.

Namun datang komunitas baru yang mengitari sang guru. Mereka penduduk Amerika yang lebih kaya bahkan ada yang dari dunia Holywood. Paling menonjol adalah Hasya. Ia dan suaminya ikut memproduksi film GodFather.

Hasya tak hanya membawa komunitas baru. Ia juga membawa banyak dana besar. Ia menghadiahkan guru dengan jam berlian. Hasya juga kemudian menikah dengan dokter pribadi sang guru. Kini tak hanya Sheela, Hasya dan suami juga mempunyai akses langsung kepada Rajnees.

Sang guru mulai sering sakit. Empat tahun sudah ia absen tak lagi berbicara di hadapan para murid. Ia beberapa kali bertanya soal bagaimana menghilangkan rasa sakit. Bahkan pernah pula bertanya bagaimana cara mati tanpa rasa sakit. Sang Guru juga punya ajaran manusia berhak untuk mati.

Paranoia menghinggapi Sheela. Ia merasa akan ada konspirasi dokter pribadi yang mengabulkan permintaan agar Sang Guru dibantu untuk mati. Hari kematian Guru sudah dipilih.

Sheela memimpin tim kecil. Tempat tinggal Sang Guru dan sekitarnya direkam. Sheela mendapat laporan dari tim: siapa yang datang menjumpai guru dan apa yang dibicarakan. Ia harus tahu jangan sampai ada tindakan yang membuat guru akhirnya mati.

Lebih jauh lagi Sheela membagi tugas. Ujar Sheela, ia mendapat informasi penting. Dalam waktu dekat guru akan mati. Waktu yang dipilih untuk mati adalah The Master Day. Dokter pribadi diminta guru membantu kematiannya.

Ujar Sheela: Ini tak boleh terjadi. Upaya pencegahan harus diambil. Guru harus tetap hidup. Guru harus diselamatkan dari komunitas orang-orang kaya itu, yang bermain dengan drug.

Tak ada jalan lain, ujar Sheela, dokter pribadi Guru harus dibunuh. Mereka pun berbagi tugas, siapa yang bersedia membunuh dokter pribadi sebelum terlambat.

Kembali saya tersentak: Wow!!! Dari komunitas spiritual yang banyak berbicara cinta lahir plot pembunuhan.

-000-

Aksi pembunuhan dengan suntikan terjadi. Namun sang dokter tidak mati. Sang guru juga tidak mati.

Entah gusar atau lainnya, tak lama kemudian, Sheela bersama 20 elit timnya, pergi meninggalkan asrama. Mereka pergi tak tahu kemana. Ribuan pengikut yang selama ini dipimpin Sheela bingung. Apa yang terjadi?

Terdengar berita Sheela di Jerman. Atau di Swedia. Yang jelas, Sheela dan tim tak lagi di Amerika Serikat.

Lebih bingung lagi ketika mereka mendengar kabar sang Guru akan datang. Setelah empat tahun lebih berdiam diri, puasa bicara, sang Guru akan bicara. Namun, tak hanya para murid yang mendengar. Banyak pula wartawan yang diundang dan datang.

Mereka saling bertanya, ada apa? Tak semua hal penting terbuka.

Sang Gurupun bicara yang menyentak semua. Ujar Rajnees, selama 4 tahun lebih saya puasa bicara. Sekelompok pimpinan dikomando oleh Sheela berkuasa. Kini mereka pergi. Bahkan tanpa pamit pada saya.

Gurupun membuat pernyataan yang semua terkaget: Sheela adalah kriminal. Ia meracuni penduduk. Ia bahkan membunuh dokter pribadi saya, tapi gagal. Ia juga membawa pergi sekitar 40 juta dollar. Ia bahkan sangat berani merekam tempat saya tinggal.

Para murid gempar. Polisi lokal mendapat alasan untuk menyidiki asrama. Tindakan kriminal sudah dituduhkan, tak nanggung dari sang guru sendiri.

Melalui video dari tempat tersembunyi, Sheela membalas sang Guru. Semua tuduhan Sang Guru tidak ia bantah. Tapi Sheela balik menyerang Sang Guru pula.

Kini para murid dan publik luas melihat Sheela yang sangat berbeda. Ia seorang pemuja, kini berubah menjadi pengkritik sang Guru paling keras. Rajnees, ujar Sheela, anda seorang jenius. Tapi saya menyaksikan betapa anda menggunakan kelebihan itu untuk mengeksploitasi kelemahan manusia.

-000-

Drama dengan aneka aneka hal baru terus mengalir. Sang guru yang begitu menawan dan kharismatik, anggun, sempat pula diborgol dan masuk penjara.

Philip Toelkes, seorang ahli hukum, pernah menjadi walikota di Rajnees City, berulang ulang berlinang air mata menceritakan keindahan sang Guru. Ujarnya, Amerika Serikat, sangat merugi sudah memperlakukan sang Guru dengan buruk. Ujarnya lagi, dalam hidup, saya tak pernah menjumpa manusia yang begitu indah dan mencerahkan seperti Rajnees.

Sheela, di usia senja, setelah keluar dari penjara, berulang kali juga menetes air mata ketika bicara soal Sang Guru. Walau tak lagi menjadi bagian dari Rajnees movement, ia tak menyembunyikan pesona sang guru sebagai intelektual raksasa.

Sang Guru, Rajnees akhirnya terusir dari Amerika Serikat. Itu deal pengadilan agar ia tidak dipenjara. Eksperimen kota suci Rajnees gagal. Kini tanah luas itu dibeli orang kaya lain untuk gerakan spiritual yang lain, yang lebih dekat dengan agama Kristen.

Rajnees Movement yang kini berganti mana menjadi OSHO movement terus tumbuh. Kini pusatnya tak lagi di Oregan, Namun di Puna, India.

Pada tahun 1990, empat tahun setelah ia meninggalkan Amerika Serikat, Osho wafat. Penyebab kematiannya pun menjadi kontroversi. Apakah ia dibunuh oleh pengikutnya sendiri? Apakah ia sakit secara wajar? Ataukah Ia sendiri yang minta dibuat mati.

Selesai menonton serial dokumentari ini, lama saya terdiam. Merenungkan kembali adegan demi adegan. Banyak tak terduga. Walau ini film dokumenter, tapi berhasil menciptakan drama.

Jika ada kekurangan, seri drama ini kurang menggali kontroversi dan kedalaman pemikiran OSHO. Padahal itulah api dari gerakan. Itulah yang membuat OSHO bercahaya, melampaui wilayah fisik.

Kembali muncul pertanyaan awal, siapakah Osho? Bagi pengikut, ia adalah Nabi baru. Bagi oposan, ia adalah penjahat rohani. Tapi bagi saya pribadi, ia salah satu pencari, guru, dari ribuan guru yang pernah ada, dan akan ada.

Hidup terus berjalan. Selalu ada guru yang mati. Selalu ada guru yang dilahirkan.***

Febuari 2019

Sumber: www.facebook.com/322283467867809/posts/2035537436542395?sfns=mo